Otak kanan vs otak kiri

Bagian kedua dari seri pengenalan diri supaya menjadi manusia yang cerdas secara emosi dan spiritual adalah mengenal otak. Manusia diturunkan ke dunia ini sebagai khalifah artinya mempunyai tugas untuk mengatur kehidupan di dunia mengikuti hukum hukum Allah. Dalam mengemban tugasnya manusia dikarunia otak yang terdiri dari otak kanan dan otak kiri. Otak kanan berfungsi untuk memunculkan gagasan, ide, keberanian , kreatifitas serta emosi. Sedangkan otak kiri mengambarkan kecerdasan secara logis, matematis, kuantitatif serta rasional. Otak kanan berhubungan dengan Emotional Quatient (EQ) sedangkan otak kiri berhubungan dengan Intelectual Quatient (IQ).
Kedua otak tersebut perlu diseimbangkan sehingga tidak otak kanan lebih dominan dari otak kiri atau sebaliknya. Dalam hal ini rasululloh telah memberi contoh misalnya ketika memulai perkara yang baik seperti memakai pakain dimulai dari lengan yang sebelah kanan. Makan dengan tangan kanan. Memasuki masjid melangkah masuk dengan kaki kanan. Rasullullah mempunyai cincin dan memakainya di tangan kanan. Artinya dalam melakukan kebaikan langkah pertama yang harus kita punyai adalah keberanian dan kreatifitas . Barulah setelah itu kita pikirkan bagaimana pekerjaan itu bisa terlaksana dengan baik. Kiai kholil bangkalan pernah mempunyai dua orang santri. Suatu ketika ia bertanya kepada kedua santrinya apakah mereka mempunyai niat untuk berangkat naik haji. Santri pertama segera mengangguk kepala walaupun ia tidak mempunyai apa-apa untuk berangkat ke tanah suci sedangkan santri yang kedua tidak segera menggangguk kepala karena ia membayangkan beratnya pergi haji. Beberapa tahun kemudian santri pertama akhirnya bisa berangkat naik haji walaupun ia miskin sedangkan santri kedua tidak pernah bisa berangkat walaupun mempunyai harta yang cukup. Sebaliknya rosullullah ketika melangkah ke kamar mandi atau toilet memulainya dengan langkah kaki kiri.. Ini mempunyai filosofi bahwa ketika kita melangkah ke tempat yang kotor atau melakukan perbuatan yang tidak benar kita harus berpikir seribu kali apakah kita mampu menanggung risikonya.
wallahu alam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: