Orang Jawa dan Sufisme

Orang Jawa mempunyai kearifan lokal yang menyebabkan mereka mudah menerima islam terutama sufismenya. Seperti diketahui bahwa islam mempunyai 3 pilar yaitu iman, islam dan ihsan. Iman merupakan pokok bahasan yang melahirkan ilmu ushuludin atau tauhid, islam melahirkan ilmu fikih sedangkan ihsan melahirkan ilmu tasawuf. 3 pilar ini merupakan manisfestasi dari tubuh manusia yang terdiri dari mind, body dan soul. Mind merupakan kekuatan pikiran, body merupakan manifestasi dari kekuatan fisik manusia, sedangkan soul adalah kekuatan rasa.
Tasawuf sendiri mempelajari kekuatan rasa dalam diri manusia. Berkaitan dalam hal ini orang jawa sendiri mempunyai budaya adilihung yang menunjukkan ketinggian rasa. Pertama ditinjau dari segi bahasa, orang Jawa mempunyai tingkatan bahasa yang digunakan dalam berkomunikasi yang disebut dengan bahasa Kromo. Bahasa jawa kromo merupakan bahasa yang sama untuk orang yang berbeda tergantung orang yang diajak bicara. Jadi apabila kita bicara dengan teman yang seumur digunakan bahasa yang lain apabila yang diajak bicara adalah orang lebih tua atau dihormati walaupun secara maksud dan tujuannya adalah sama.Kedua orang jawa mempunyai filosofi yang menunjukkan ketinggian rasa yang dimilikinya. Filosofi tersebut terdapat dalam ungkapan yang biasa digunakan seperti :
  1. Mangan ora mangan kumpul. Maksudnya adalah makan tidak makan asal tetap kumpul atau bersatu. Orang Jawa biasa menggunakan ungkapan ini untuk menunjukan kerukunan diantara mareka. Ini tentu selaras dngan yang diajarkan oleh islam tentang pentingnya memulyakan sesama muslim. Bahkan dikatakan dalam islam seorang muslim adalah seperti salah satu bagian dari tubuh kita sehingga apabila ia sakit seluruh anggota tubuh yan lain juga merasakan.
  2. Sugih tanpa bandha. Artinya adalah kaya walaupun tanpa harta benda. Harta benda dalam islam sendiri adalah sarana pengabdian kepada yang Maha Kuasa.Jadi meskipun harta benda kita sedikit atau bahkan tidak ada sama sekali tentu bukan halangan untuk mengabdi kepada tuhan.Nabi sendiri mengajarkan apabila ada orang yang diberi kelebihan harta kemudian menyedekahkan harta bendanya siang dan malam dan seorang yang lain yang selalu berzikir siang dan malam maka yang berzikir itu adalah yang lebih utama. Kenapa? karena sedekah, sholat dan lainnya adalah alat untuk berzikir. Alat yang digunakan belum tentu menyampaikan pada tujuan. Sedangkan zikir adalah tujuan dari ibadah.
  3. Ngluruk tanpa wadya bala.Maksudnya adalah Keberanian tanpa asbab apapun.Karena sesungguhnya kekuatan orang islam adalah lewat pertolongan dari Sang maha Kuasa. Maksud dari ungkapan ini untuk mengajarkan bahwa dalam menjalani suatu kebenaran kita diajarkan untuk berani atau mengedepankan otak kanan yang merupakan sumber dari keberanian dan kreatifitas. Sedangkan apabila menjalani suatu yang buruk kita harus menggunakan otak kiri yang merupakan sumber analitis matetematis supaya kita sadar konsekuensi dalam perbuatan itu. Hal ini sebenarnya tercermin dalam sunah nabi dimana bila nabi melangkah ke tempat yang baik misalnya ke masjid dimulai dengan langkah kaki kanan tetapi apabila melangkah ke kamar mandi masuk dengan langkah kaki kiri.
  4. Menang tanpa ngasorake.Menang atau mencapai tujuan tanpa merendahkan yang lain. Ini tentu bukan pekerjaan mudah karena hanya dapat dilakukan oleh seseorang yang menguasai ilmu hikmah.

Inilah yang menyebabkan orang Jawa mudah menerima islam dalam kehidupannya. Bagaimana pendapat anda?


    One response to “Orang Jawa dan Sufisme

    Leave a Reply

    Fill in your details below or click an icon to log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

    Connecting to %s

    %d bloggers like this: