Sunday

Minggu pagi
Every body like Sunday. Hari bersantai setelah 6 hari membanting tulang dan memeras keringat. Sebenarnya tidak ada yang khusus yang kulakukan di hari Minggu. Yang pasti pagi hari jadwal rutinku adalah membeli Koran Jawa pos atau Kompas. Aku sengaja membeli koran secara eceran hanya hari Sabtu dan Minggu. Bukannya tidak mampu berlangganan koran toh berita sama dengan yang ada di TV. Jadi aku pilih membeli di akhir pekan saja. Beritanya nyantai, tentang budaya, sosialita, kuliner, trend, resensi buku, kuliner. Sesuatu yang memang kubutuhkan untuk keluar dari rutinitas yang membelenggu. Aku kadang-kadang bisa tertawa terbahak-bahak bila membaca cerpen yang lucu. Atau mendapat inspirasi dari artikel yang menggugah. Apalagi membaca koran pagi ditemani secangkir kopi manis.
Hari ini sebenarnya ada saudara yang hajatan tapi karena istriku sedang hamil muda akhirnya hanya ayah saja yang berangkat. Rumah saudara itu sedikit di luar kota. Istriku bersikeras ikut. Tetapi suaranya kalah dengan suara terbanyak di keluarga yang menyarankan untuk tetap tinggal di rumah saja. Bahkan ibuku yang ada di malangpun menelpon dan mewanti-wanti hal yang sama.
Setelah itu aku dan istriku di rumah saja. Nonton TV. Tapi tidak lama kemudian aku ingat tentang sepatu kerjaku yang sudah robek di bagian belakang. Memang sudah waktunya diganti. Produksi sekarang entah kenapa memang tidak bertahan lama. Aku ingat dulu ketika SD sepatu bisa bertahan sampai tiga tahun. Sekarang cuma bertahan satu tahun. Setiap tahun orang akan minta kenaikan gaji menyesuaikan dengan UMR, kalau tidak ada orang yang beli sepatu karena sepatunya masih bagus. Bagaimana pabrik sepatu membayar kenaikan gaji karyawannya? Sebagai orang marketing tahulah aku mengenai hal ini. Lagipula jika barang kita sendiri terlalu awet kita sendiri yang bosan memakainya. Dengan tingginya persaingan kerja memaksa orang untuk lebih kreatif dan inovatif sehingga varian baru sering diluncurkan. Dengan begitu barang kita menjadi cepat ketinggalan jaman. Lihat saja gerai penjual handphone. Selalu ramai bak kacang goreng. Malah pernahkah kamu melihat penjual kacang goreng seramai itu?
Waktu menunjukkan jam 11.00 pagi ketika aku selesai membeli sepatu baru di toko sepatu langgananku. Toko sepatu dan sandal itu terletak tidak jauh dari rumahku. Ia awalnya hanya ngontrak sambil berjualan sepatu dan sandal di rumah kecilnya. Rupanya suratan nasib gampang saja membalikkan keadaan. Tokonya bertambah maju sehingga ia mampu membeli tanah yang cukup luas dan membangunnya dengan bangunan yang bagus. Toko sepatu kecil itupun menjadi toko sepatu yang besar dengan banyak pengunjung dan banyak karyawan. Siapa yang dulu pernah menyangka?
Dalam perjalanan pulang istriku mengajak untuk mampir membeli gado-gado dan es degan untuk makan siang. Selepas itu tepat adzan dhuhur ketika kami sampai di rumah. Waktunya untuk sholat Dhuhur. Sesudah sholat aku makan gado-gado yang barusan dibeli dan segelas es degan. Tapi itu sudah cukup untuk membuatku merasa bersyukur dengan apa yang kupunya dan kujalani hari ini. Bagaimana dengan minggu anda hari ini?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: