Pergi ke Bidan

Sore tadi aku habis mengantarkan istriku ke bidan untuk memeriksakan kandungannya. Ini kali pertama aku pergi ke bidan. Sebelumnya aku selalu pergi ke dokter kandungan. Terus terang aku berganti pergi ke bidan untuk mengirit biaya. Kondisi keuanganku sekarang memang tidak begitu baik. Oleh karena itu aku mencari bentuk “pengeluaran yang dibutuhkan” yang sesuai dengan kondisiku saat ini sad .Pertama kali datang disana ada 2 meja untuk pembantu bidan. Kelihatannya yang kedua adalah anak sekolah kebidanan yang magang. Ini memang kemungkinan karena aku tadi tidak menanyakannya. Sedangkan meja pertama adalah pembantu bidan yang asli. Pertama kali istriku di tanya tentang biodata pasien, nama, alamat, pekerjaan, riwayat penyakit yang pernah diderita dan juga riwayat kehamilan sebelumnya. Memang istriku sebelumnya pernah hamil. Tetapi karena memang belum rejekinya anakku yang pertama akhirnya meninggal di kandungan. Kata dokter sih waktu itu karena tidak bergerak jantungnya. Setelah itu istriku menjalani tes urine untuk mengetahui hamil atau tidak. Istriku memang tidak bilang kalau sudah ke dokter dan sudah diberitahu bahwa ia hamil. Setelah dites diberitahu bahwa istriku hamil 12 minggu. Kemudian kami dipersilahkan untuk menuju ke ruang bidan. Di sana istriku diperiksa perutnya secara manual tidak memakai alat apapun. Setelah itu kami berkonsultasi tentang perawatan bayi yang di kandungan. Istriku selama hamil muda ini memang jadi gak nafsu makan. Terasa mual dan pengen muntah bila makan. Disarankan oleh bidan untuk tetap(memaksa) makan caranya adalah dengan makan apa saja, bila nasi tidak nafsu bisa diganti dengan roti, kentang, susu atau apa saja. Yang saya rasakan beda penanganan antara dokter dan bidan adalah dokter(yang kebetulan laki-laki) adalah segera memeriksa kondisi kehamilan dengan alat(USG) setelah itu ia memberikan menulis resep obat penguat kandungan. Itu saja. Kami jadi gak tahu harus berkonsultasi atau bertanya apa. Sedangkan kalau ke bidan, dia mau menerangkan apa yang harus dilakukan untuk menjaga kandungan. Sebabnya menurutku ada 2 pertama sehebat-hebatnya dokter laki-laki atau seberapa berpengalamannya dokter tetapi ia bagaimanapun khan tidak pernah hamil. Oleh karena itu memang lebih baik jika pergi ke dokter ke dokter wanita saja. Kedua dengan keterbatasan alat yang ada malah justru pendekatan personal akan lebih baik. Bukankah yang tidak kalah penting adalah menjaga psikologis ibu supaya tetap tenang dalam menghadapi kehamilan.Oh ya tadi aku juga diberi buku kesehatan ibu dan anak tentang kehamilan yang harus dibaca supaya tambah pengetahuan. Paling tidak nanti kalau ke bidan lagi jadi ada yang ditanyakan bila belum jelas. Kok di dokter aku kok tidak dapat buku seperti ini ya? Selesai itu aku membayar biaya bidan sebesar 50.000 sudah termasuk vitamin satu emplek untuk 10 hari. Kalau ke dokter aku harus membayar biaya dokter sama 50.000 tetapi plus obat karena biasanya dokter tidak (puas) jika tidak menulis resep yang biasanya sekitar 300.000. Saya sendiri mencoba lebih kreatif saja ditengah keterbatasan yang ada. Semoga saja (dengan keterbatasan) yang ada anakku tetap tumbuh menjadi anak yang sehat dan sholeh /sholehah. Amin.smile

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: